Hari ini adalah 1 Muharram 1439 H, yaitu tahun barunya
umat Muslim di seluruh dunia. Sering diantaranya kita tidak begitu menyadari
pergantian hari, bulan, bahkan tahu hijriah, namun begitu ingat dengan
penanggalan Masehi. Memang tidak dilarang, namun sungguh terlalu jika tidak
mengetahui penanggalan hijriah.
Jika pergantian tahun masehi, biasanya dirayakan
dengan pesta kembang api, keyboard, melakukan pesta dan hiburannya lainnya.
Apakah kita sebagai Muslim juga harus mengikuti seperti itu untuk menyambut
tahu baru hijriah.
Khalifah Umar bin Khattab mengambil pendapat Sayyidina
Ali bin Abi Thalib untuk memulai penanggalan tahun Hijriah pada saat Rasulullah
SAW hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah. Peristiwa hijrah berpengaruh dan
menjadi titik tolak kebangkitan Islam. Maka tak heran peristiwa itu dijadikan
patokan dalam penanggalan hijriah.
Peristiwa pergantian tahun hijriah haruslah kita
maknai dengan penuh kebaikan. Mari kita renungkan firman Allah SWT sebagai
berikut :
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan
sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam
surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdayakan. ( QS. Al- Imran
: 185 )
Dari firman Allah SWT di atas, setidaknya ada tiga hal
yang patut kita renungkan.
Pertama, pergantian tahun menunjukkan betapa semakin
dekatnya kita dengan kematian. Jatah usia kita semakin berkurang. Kita semakin
melangkah dekat dengan akhir kehidupan kita.
Kedua, kita merenungkan apakah langkah kita di tahun
sebelumnya mendekatkan diri ke surga, atau justru mendekatkan kita ke dalam
Neraka? Pergantian tahun dapat kita jadikan evaluasi diri dan bermuhasabah
diri. Khalifah Umar bin Khattab berpesan, “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan
timbanglah dirimu sebelum ditimbang”.
Ketiga, pergantian tahun dijadikan untuk mengevaluasi
kualitas hidup kita. Sudahkah kita menjadikan kesuksesan akhirat menjadi acuan
kita, atau malah justru dunia yang fana ini menjadi tujuan kita.
Sahabat, yok mari kita berhijrah dari hal-hal buruk
dan sia-sia ke dalam kehidupan yang berkualtas berdasarkan syariah Allah.
Semoga kita paham memaknai hijriah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar