JIWA MUDA
Minggu, 14 Juli 2019
Sabtu, 23 September 2017
We Are The Champion !!
Kita sudah menjadi pemenang. Dari milyaran sel
kemungkinan, hanya ada satu yang dapat menembus sel telur, itu adalah kita.
Kita adalah pemenang kompetisi itu. Begitulah sebuah fakta ilmiah yang diungkap
Dale Carnegie dari sebuah buku klasik, You and Heridity.
Lahir sebagai manusia unik, dan tak ada satupun di seluruh dunia ini yang
sama sekali dengan kita. Kita makhluk sangat spesial yang Allah ciptakan.
Masterpiece yang tiada duanya. Tak ada yang mampu sama persis dengan kita.
Tercipta dengan sangat luar biasa, sangat spesial. Bolehkah kedua mata kita
dibeli satu miliar? Bolehkah pendengaran kita dibeli dengan Lamborghini? Atau
bolehkah kepala kita ditukar dengan sebuah rumah yang super mewah? Ya, harga
kita tak ternilai dari apapun benda yang ada di dunia ini.
Makhluk spesial haruslah dihargai dengan tugas yang spesial pula. Makhluk
terhormat haruslah diberi tugas kehormatan pula. Makhluk berharga haruslah
diberi tugas dan tanggung jawab yang beerharga pula. Jika makhluk
terhormat diberi tugas dan wewenang remeh, tentu itu merupakan pelecehan
terhadapnya. Orang besar harus diberi tugas besar pula.
Berani menjadi manusia, harus berani memegang tanggung jawab yang
disertakan Allah padanya. Berani jadi manusia harus berani mengemban
tugas yang diamanatkan Sang Pencipta kepadanya.
Tapi lihatlah prilaku kebanyakan manusia, mereka melecehkan dirinya sendiri
dengan tertunduk kepada mahkluk yang diciptakan lebih rendah darinya. Mereka
menjual martabat dirinya demi pangkat, menukar dirinya demi limpahan harta,
mengorbankan waktunya melakukan tugas yang tak pantas dilakukan mahkluk yang
namanya manusia.
Saya mempunyai misi hidup bermanfaat untuk orang lain. Saya setelah sholat,
saya usahakan berdo'a semoga apa yang saya punya, apa yang saya miliki
bermanfaat untuk sesama manusia, semoga dengan ini dapat memperberat timbangan
saya di yaumil hisab kelak.
Jangan pernah meremehkan karya Allah dengan pilihan-pilihan hidup yang
kerdil. Jangan pernah melecehkan mahakarya Allah dengan aktivitas-aktivitas
kita yang kecil.
Sebuah kedurhakaan jika kita mengisi hidup dengan beragam kegiatan yang tak
layak dilakukan oleh sang mahakarya. Tentu kezaliman yang tersangat jika
mahkluk yang istimewa ini hanya numpang lewat dalam kenangan. Lahir, hidup,
mati tanpa meninggalkan warisan berharga. Alangkah bahagianya saat kita mati,
kita meninggalkan warisan yang bermanfaat sehingga pahalanya terus mengalir
walaupun kita sudah tiada.
Hidup terlalu singkat dipakai nyantai. Hidup adalah kompetisi. Hanya ada 2
pilihan, ada yang sukses ada yang gagal. Ada yang naik dan ada yang turun. Ada
yang mulia dan ada yang hina. Al Qur'an mewasiatkan agar kita fastabiqul
khairaat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Saat kita jalan, di lain
tempat orang lain sedang berdiri, di lain tempat orang lain berlari kenjang
menuju impiannya masing-masing. Yok mari sahabat, bangun dari tidur panjang.
Mumpung jantung kita masih berdetak, isilah aktivitas produktif. Hidup sekali,
berarti, lalu mati.
Jumat, 22 September 2017
Memaknai Hijrah
Hari ini adalah 1 Muharram 1439 H, yaitu tahun barunya
umat Muslim di seluruh dunia. Sering diantaranya kita tidak begitu menyadari
pergantian hari, bulan, bahkan tahu hijriah, namun begitu ingat dengan
penanggalan Masehi. Memang tidak dilarang, namun sungguh terlalu jika tidak
mengetahui penanggalan hijriah.
Jika pergantian tahun masehi, biasanya dirayakan
dengan pesta kembang api, keyboard, melakukan pesta dan hiburannya lainnya.
Apakah kita sebagai Muslim juga harus mengikuti seperti itu untuk menyambut
tahu baru hijriah.
Khalifah Umar bin Khattab mengambil pendapat Sayyidina
Ali bin Abi Thalib untuk memulai penanggalan tahun Hijriah pada saat Rasulullah
SAW hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah. Peristiwa hijrah berpengaruh dan
menjadi titik tolak kebangkitan Islam. Maka tak heran peristiwa itu dijadikan
patokan dalam penanggalan hijriah.
Peristiwa pergantian tahun hijriah haruslah kita
maknai dengan penuh kebaikan. Mari kita renungkan firman Allah SWT sebagai
berikut :
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan
sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam
surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdayakan. ( QS. Al- Imran
: 185 )
Dari firman Allah SWT di atas, setidaknya ada tiga hal
yang patut kita renungkan.
Pertama, pergantian tahun menunjukkan betapa semakin
dekatnya kita dengan kematian. Jatah usia kita semakin berkurang. Kita semakin
melangkah dekat dengan akhir kehidupan kita.
Kedua, kita merenungkan apakah langkah kita di tahun
sebelumnya mendekatkan diri ke surga, atau justru mendekatkan kita ke dalam
Neraka? Pergantian tahun dapat kita jadikan evaluasi diri dan bermuhasabah
diri. Khalifah Umar bin Khattab berpesan, “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan
timbanglah dirimu sebelum ditimbang”.
Ketiga, pergantian tahun dijadikan untuk mengevaluasi
kualitas hidup kita. Sudahkah kita menjadikan kesuksesan akhirat menjadi acuan
kita, atau malah justru dunia yang fana ini menjadi tujuan kita.
Sahabat, yok mari kita berhijrah dari hal-hal buruk
dan sia-sia ke dalam kehidupan yang berkualtas berdasarkan syariah Allah.
Semoga kita paham memaknai hijriah.
Langganan:
Postingan (Atom)
Penilaian Manusia
Beberapa hari yang lalu, saya bertemu teman lama yang dulu pernah tinggal bersama walau hanya satu tahun. Kami berjumpa di kantin rumah sa...
-
Kita sudah menjadi pemenang. Dari milyaran sel kemungkinan, hanya ada satu yang dapat menembus sel telur, itu adalah kita. Kita adal...
-
Hari ini adalah 1 Muharram 1439 H, yaitu tahun barunya umat Muslim di seluruh dunia. Sering diantaranya kita tidak begitu menyada...


