Sabtu, 23 September 2017

We Are The Champion !!



Kita sudah menjadi pemenang. Dari milyaran sel kemungkinan, hanya ada satu yang dapat menembus sel telur, itu adalah kita. Kita adalah pemenang kompetisi itu. Begitulah sebuah fakta ilmiah yang diungkap Dale Carnegie dari sebuah buku klasik, You and Heridity.

Lahir sebagai manusia unik, dan tak ada satupun di seluruh dunia ini yang sama sekali dengan kita. Kita makhluk sangat spesial yang Allah ciptakan. Masterpiece yang tiada duanya. Tak ada yang mampu sama persis dengan kita.

Tercipta dengan sangat luar biasa, sangat spesial. Bolehkah kedua mata kita dibeli satu miliar? Bolehkah pendengaran kita dibeli dengan Lamborghini? Atau bolehkah kepala kita ditukar dengan sebuah rumah yang super mewah? Ya, harga kita tak ternilai dari apapun benda yang ada di dunia ini.

Makhluk spesial haruslah dihargai dengan tugas yang spesial pula. Makhluk terhormat haruslah diberi tugas kehormatan pula. Makhluk berharga haruslah diberi tugas dan tanggung jawab yang beerharga pula. Jika makhluk  terhormat diberi tugas dan wewenang remeh, tentu itu merupakan pelecehan terhadapnya. Orang besar harus diberi tugas besar pula.



Berani menjadi manusia, harus berani memegang tanggung jawab  yang disertakan Allah padanya. Berani jadi manusia  harus berani mengemban tugas yang diamanatkan Sang Pencipta kepadanya.

Tapi lihatlah prilaku kebanyakan manusia, mereka melecehkan dirinya sendiri dengan tertunduk kepada mahkluk yang diciptakan lebih rendah darinya. Mereka menjual martabat dirinya demi pangkat, menukar dirinya demi limpahan harta, mengorbankan waktunya melakukan tugas yang tak pantas dilakukan mahkluk yang namanya manusia.

Saya mempunyai misi hidup bermanfaat untuk orang lain. Saya setelah sholat, saya usahakan berdo'a semoga apa yang saya punya, apa yang saya miliki bermanfaat untuk sesama manusia, semoga dengan ini dapat memperberat timbangan saya di yaumil hisab kelak. 

Jangan pernah meremehkan karya Allah dengan pilihan-pilihan hidup yang kerdil. Jangan pernah melecehkan mahakarya Allah dengan aktivitas-aktivitas kita yang kecil.

Sebuah kedurhakaan jika kita mengisi hidup dengan beragam kegiatan yang tak layak dilakukan oleh sang mahakarya. Tentu kezaliman yang tersangat jika mahkluk yang istimewa ini hanya numpang lewat dalam kenangan. Lahir, hidup, mati tanpa meninggalkan warisan berharga. Alangkah bahagianya saat kita mati, kita meninggalkan warisan yang bermanfaat sehingga pahalanya terus mengalir walaupun kita sudah tiada.

Hidup terlalu singkat dipakai nyantai. Hidup adalah kompetisi. Hanya ada 2 pilihan, ada yang sukses ada yang gagal. Ada yang naik dan ada yang turun. Ada yang mulia dan ada yang hina. Al Qur'an mewasiatkan agar kita fastabiqul khairaat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Saat kita jalan, di lain tempat orang lain sedang berdiri, di lain tempat orang lain berlari kenjang menuju impiannya masing-masing. Yok mari sahabat, bangun dari tidur panjang. Mumpung jantung kita masih berdetak, isilah aktivitas produktif. Hidup sekali, berarti, lalu mati.

Jumat, 22 September 2017

Memaknai Hijrah





Hari ini adalah 1 Muharram 1439 H, yaitu tahun barunya umat Muslim di seluruh dunia. Sering diantaranya kita tidak begitu menyadari pergantian hari, bulan, bahkan tahu hijriah, namun begitu ingat dengan penanggalan Masehi. Memang tidak dilarang, namun sungguh terlalu jika tidak mengetahui penanggalan hijriah.

Jika pergantian tahun masehi, biasanya dirayakan dengan pesta kembang api, keyboard, melakukan pesta dan hiburannya lainnya. Apakah kita sebagai Muslim juga harus mengikuti seperti itu untuk menyambut tahu baru hijriah.

Khalifah Umar bin Khattab mengambil pendapat Sayyidina Ali bin Abi Thalib untuk memulai penanggalan tahun Hijriah pada saat Rasulullah SAW hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah. Peristiwa hijrah berpengaruh dan menjadi titik tolak kebangkitan Islam. Maka tak heran peristiwa itu dijadikan patokan dalam penanggalan hijriah.

Peristiwa pergantian tahun hijriah haruslah kita maknai dengan penuh kebaikan. Mari kita renungkan firman Allah SWT sebagai berikut :

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa  dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. ( QS. Al- Imran : 185 )

Dari firman Allah SWT di atas, setidaknya ada tiga hal yang patut kita renungkan.

Pertama, pergantian tahun menunjukkan betapa semakin dekatnya kita dengan kematian. Jatah usia kita semakin berkurang. Kita semakin melangkah dekat dengan akhir kehidupan kita.



Kedua, kita merenungkan apakah langkah kita di tahun sebelumnya mendekatkan diri ke surga, atau justru mendekatkan kita ke dalam Neraka? Pergantian tahun dapat kita jadikan evaluasi diri dan bermuhasabah diri. Khalifah Umar bin Khattab berpesan, “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah dirimu sebelum ditimbang”.

Ketiga, pergantian tahun dijadikan untuk mengevaluasi kualitas hidup kita. Sudahkah kita menjadikan kesuksesan akhirat menjadi acuan kita, atau malah justru dunia yang fana ini menjadi tujuan kita. 

Sahabat, yok mari kita berhijrah dari hal-hal buruk dan sia-sia ke dalam kehidupan yang berkualtas berdasarkan syariah Allah.

Semoga kita paham memaknai hijriah.

Penilaian Manusia

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu teman lama yang dulu pernah tinggal bersama walau hanya satu tahun. Kami berjumpa di kantin rumah sa...