Kita sudah menjadi pemenang. Dari milyaran sel
kemungkinan, hanya ada satu yang dapat menembus sel telur, itu adalah kita.
Kita adalah pemenang kompetisi itu. Begitulah sebuah fakta ilmiah yang diungkap
Dale Carnegie dari sebuah buku klasik, You and Heridity.
Lahir sebagai manusia unik, dan tak ada satupun di seluruh dunia ini yang
sama sekali dengan kita. Kita makhluk sangat spesial yang Allah ciptakan.
Masterpiece yang tiada duanya. Tak ada yang mampu sama persis dengan kita.
Tercipta dengan sangat luar biasa, sangat spesial. Bolehkah kedua mata kita
dibeli satu miliar? Bolehkah pendengaran kita dibeli dengan Lamborghini? Atau
bolehkah kepala kita ditukar dengan sebuah rumah yang super mewah? Ya, harga
kita tak ternilai dari apapun benda yang ada di dunia ini.
Makhluk spesial haruslah dihargai dengan tugas yang spesial pula. Makhluk
terhormat haruslah diberi tugas kehormatan pula. Makhluk berharga haruslah
diberi tugas dan tanggung jawab yang beerharga pula. Jika makhluk
terhormat diberi tugas dan wewenang remeh, tentu itu merupakan pelecehan
terhadapnya. Orang besar harus diberi tugas besar pula.
Berani menjadi manusia, harus berani memegang tanggung jawab yang
disertakan Allah padanya. Berani jadi manusia harus berani mengemban
tugas yang diamanatkan Sang Pencipta kepadanya.
Tapi lihatlah prilaku kebanyakan manusia, mereka melecehkan dirinya sendiri
dengan tertunduk kepada mahkluk yang diciptakan lebih rendah darinya. Mereka
menjual martabat dirinya demi pangkat, menukar dirinya demi limpahan harta,
mengorbankan waktunya melakukan tugas yang tak pantas dilakukan mahkluk yang
namanya manusia.
Saya mempunyai misi hidup bermanfaat untuk orang lain. Saya setelah sholat,
saya usahakan berdo'a semoga apa yang saya punya, apa yang saya miliki
bermanfaat untuk sesama manusia, semoga dengan ini dapat memperberat timbangan
saya di yaumil hisab kelak.
Jangan pernah meremehkan karya Allah dengan pilihan-pilihan hidup yang
kerdil. Jangan pernah melecehkan mahakarya Allah dengan aktivitas-aktivitas
kita yang kecil.
Sebuah kedurhakaan jika kita mengisi hidup dengan beragam kegiatan yang tak
layak dilakukan oleh sang mahakarya. Tentu kezaliman yang tersangat jika
mahkluk yang istimewa ini hanya numpang lewat dalam kenangan. Lahir, hidup,
mati tanpa meninggalkan warisan berharga. Alangkah bahagianya saat kita mati,
kita meninggalkan warisan yang bermanfaat sehingga pahalanya terus mengalir
walaupun kita sudah tiada.
Hidup terlalu singkat dipakai nyantai. Hidup adalah kompetisi. Hanya ada 2
pilihan, ada yang sukses ada yang gagal. Ada yang naik dan ada yang turun. Ada
yang mulia dan ada yang hina. Al Qur'an mewasiatkan agar kita fastabiqul
khairaat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Saat kita jalan, di lain
tempat orang lain sedang berdiri, di lain tempat orang lain berlari kenjang
menuju impiannya masing-masing. Yok mari sahabat, bangun dari tidur panjang.
Mumpung jantung kita masih berdetak, isilah aktivitas produktif. Hidup sekali,
berarti, lalu mati.


